BUKAN SEKEDAR AJANG KUMPUL

Sebuah kata yang semua Orang dipastikan sudah tahu maksudnya, Walaupun dengan kadar kepahaman yang berbeda. Dan sedikit bertabrakan. BUKAN SEKEDAR AJANG KUMPUL Ingin berbagi Pengetahuan Seputar Kebiasaan / Adat Istiadat, Budaya, Kesenian serta segala bentuk hal yang memiliki nilai seni.


Tengul

Diposting oleh Joe kancil Minggu, 08 Mei 2011

Istilah wayang berasal dari bahasa Jawa, yakni dari kata wayangan atau wayang-wayang (bayangan). Akar kata dari wayang adalah "yang", yang artinya selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Kata "yang" kemudian mendapat awalan wa sehingga menjadi wayang.
Awalan wa dalam bahasa Jawa modern tidak mempunyai fungsi lagi, namun dalam bahasa Jawa kuno mempunyai fungsi, misalnya wahiri yang berarti iri hati. Ini berarti bahwa istilah wayang telah ada sejak zaman Jawa kuno ketika awalan wa masih berfungsi dalam tata bahasa.
Dengan demikian, wayang yang arti harfiahnya sama dengan bayangan, maka secara lebih luas mengandung pengertian bergerak satu tempat ke tempat lain atau bergerak kian kemari, tidak tetap atau sayup-sayup (bagi substansi bayang-bayang).
Kesenian tradisional wayang tengul Bojonegoro menjadi saksi sejarah kesenian rakyat di negeri ini. Ia tampil melakonkan cerita kekinian tanpa meninggalkan keasliannya. Ia tegar mengiringi jaman yang bangsanya kian beringsut dari seni tradisinya.
       Bumi Citra Raya Surabaya malam itu tampak semarak. Warga kota berkerumun di depan Kahyangan Art and Resto. Mereka kelihatan riang dan asyik menikmati suara pesinden yang tengah melantunkan gending campursari dengan iringan gamelan. Sambil menyimak alunan suara sinden, mata mereka menatap tajam ke arah panggung.
Di atas panggung terlihat seorang laki-laki dengan lincah tangannya memainkan benda mirip patung kayu. Dia adalah dalang Mbah Mardji Marto Degleg yang saat itu tengah mementaskan kesenian tradisional wayang tengul. Malam itu dia diundang khusus oleh pemilik restoran untuk tampil sebagai penyaji dalam acara Festival Seni Kahyangan.
       Suka cita dan keceriaan ternyata bukan hanya milik warga. Kebahagiaan juga nampak terpancar pada raut muka Mbah Mardji. Dia bahagia karena kali ini mendapat kehormatan pentas mengisi acara festival seni tradisi di luar Bojonegoro, daerah yang selama ini jadi arena pelestarian wayang tengul. Bersama istrinya yang sekaligus menjadi pesindennya, Mbah Mardji mendalang begitu bersemangat, diiringi lebih kurang 24 kru pendukung dari grup sekar laras “Angling Dharmo” dari Desa Sukowati, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro.
       Kegembiraan dalang yang memiliki nama asli Sumardji ini bukan hanya lantaran dia bisa tampil pada acara khusus. Tapi, yang lebih membanggakan dirinya adalah pementasan wayang tengul kali ini seolah menunjukkan jika kesenian itu masih ada. Meski, entah publik seperti apa yang turut menikmati pementasan itu.
Daerah Bojonegoro adalah ruang kondusif untuk keberadaan wayang tengul. Hal ini tercermin pada eksistensi para dalang wayang itu sendiri. Menurut Widji Soenoko, Kepala Seksi Kesenian Masyarakat Dinas Pariwisata & Kebudayaan Kabupaten Bojonegoro, terdapat 14 dalang wayang tengul di Bojonegoro. Salah satu alasan inilah mengapa hak paten Bojonegoro sebagai kota wayang tengul diraih dari Depkumham pada 2004 silam.
Sebagaimana wayang timplong asal Ngajuk, wayang golek khas Bojonegoro ini pun bisa terus hidup dan berkembang, karena komunitas masyarakat di pedesaan yang menghargai nilai-nilai seni tradisi itu sendiri. Realitas itu terbaca ketika dalam bulan-bulan tertentu warga masyarakat sedang punya hajatan, sebut misalnya hajatan pernikahan, sunatan, dan sedakah bumi, selalu mengadakan pementasan wayang tengul. Khususnya bulan Sapar, Besar, dan Bakda Mulud biasanya ramai tanggapan.
       Selain di Bojonegoro, wayang ini kerap dipentaskan di daerah lain seperti Tuban, Lamongan, Gresik, Nganjuk, dan Blora, Jawa Tengah. Tarif tanggapan berkisar antara Rp 3 juta – Rp 5 juta. Jika pentas di luar Bojonegoro tentu bisa bertambah, untuk biaya transportasi dan akomodasi.
Berbeda dari wayang purwo atau wayang kulit, wayang tengul terbuat dari kayu berbentuk tiga dimensi (golek/boneka). Bentuk wayang ini pernah mengalami perubahan. Golek kayu buatan perajin dulu polanya klasik; bentuk wajahnya gepeng dan tata make up-nya unik. Tapi kemudian tata bentuk dan tata rias wayang tengul menjadi seperti orang biasa, seperti pemain ketoprak ketika digarap oleh Mardanis (alm), perajin wayang tengul ternama.
       Sejak itu, karakter tokoh prianya kelihatan lebih gagah, dan tokoh wanitanya terlihat cantik. Sementara dari aspek pertunjukan tidak berbeda jauh dengan pertunjukan wayang kulit, karena iringan musiknya menggunakan gamelan slendro dan pelog lengkap serta waranggana (sinden). Satu kotak perangkatnya bisa mencapai 200-300 tokoh wayang. Saat pertunjukan, hanya beberapa tokoh yang dimainkan sesuai cerita yang dipentaskan.



Asal Usul
       Wayang tengul sering juga disebut wayang menak. Sejenis dengan wayang golek hanya bentuk fisik dan asesorisnya berbeda. Biasanya, ada semacam ritual yang mereka lakukan setiap akan memasuki sebuah desa untuk sebuah pertunjukan. Sang dalang selalu melakonkan satu babak cerita di dekat pepunden atau makam keramat. Ritual ini konon sebagai ungkapan minta izin pada Sang Bahurekso penguasa alam gaib desa setempat karena mereka akan mengamen di wilayahnya. Sekaligus mereka minta dijauhkan dari malapetaka.
Konon, wayang tengul berasal dari Wali Songo ketika mendirikan Masjid Agung Demak, Jawa Tengah. Untuk merayakannya, setiap masyarakat diminta membuat wayang dari kayu yang menyerupai manusia. Wayang tersebut kemudian dimainkan Sunan Kalijaga sebagai media dakwah syiar Islam.
Kisah lain menyebutkan, wayang tengul berasal dari Kitab Menak dengan latar belakang budaya Arab. Cerita menak disadur dari kepustakaan Persia berjudul Qissai Emir Hamzah yang dibuat pada zaman Sultan Harun al-Rasyid pada 766 hingga 809 sebelum Masehi.
Dalam kesusasteraan Melayu, cerita itu lebih dikenal dengan judul Hikayat Amir Hamzah. Namun, ceritanya dialihbahasakan ke dalam bahasa Jawa. Kisah dalam kitab ini sudah berbaur dengan cerita-cerita panji babad tanah Jawa hingga runtuhnya Majapahit.
Serat menak ini sempat diubah oleh Yosodipuro, pujangga besar Surakarta, pada 1729 hingga 1802. Selain dibuat dalam bahasa Jawa, falsafah ceritanya juga diubah sehingga lebih mudah dicerna oleh masyarakat Jawa. Karenanya, tokoh-tokoh dalam wayang tengul atau menak juga disesuaikan dengan lidah Jawa. Seperti pengucapan Umar bin Umayah menjadi Umar Maya.
       Di Jawa Timur, wayang tengul masih sering dimainkan di daerah Bojonegoro. Tak heran jika kesenian ini agak sulit ditemukan. Mungkin dari sekian dalang yang ada di Bojonegoro, hanya Mbah Mardji yang tetap berusaha melestarikan hingga akhir hayatnya. Toh jauh di relung hati Mbah Mardji masih tersimpan kerisauan. Akankah kesenian leluhur ini mampu bertahan seperti yang selama ini dia perjuangkan. Entah sampai kapan kegalauan itu menyelimuti batin Mbah Mardji. Yang jelas, ditengah jaman yang sedemikian jauh meninggalkan kesenian tradisi, Mbah Mardji tetap setia mengamen wayang demi tujuan lestarinya wayang tengul.


0 komentar

Posting Komentar




Translator

Pengikut

backLink

Mau Tukar Link? Copy/paste code HTML berikut ke blog anda

Bukan sekedar ajang kumpul

joe kancil Theater
Kehidupan

Free Automatic Link Free Automatic Link Web Link Exchange Kostenlose Backlink Austausch Unlimited Backlink Unlimited Backlink Free Automatic Link Unlimited Backlink Unlimited Backlink Free Backlinks PlanetBlog - Komunitas Blog Indonesia

pasang iklan anda